Sesuai agenda yang disepakati
oleh pengurus pondok, bahwa tanggal 6-7 Juli 2012 adalah rapat kerja (raker)
tahunan pengurus dan asatidz. Berarti masa saya berlibur di rumah sudah habis.
Saya harus kembali ke Malang paling lambat nanti malam (malam Jum'at).
Dikarenakan saya adalah penanggung jawab acara, mau tidak mau saya harus hadir.
Jika tidak, dipastikan semua akan menghujat saya habis-habisan. Sebab dulu
waktu rapat, sayalah yang getol untuk diadakannya raker ini.
Jam 09.00 saya ditelepon oleh
famili saya. Namanya Kadir. Dia mengabarkan kalau saya mendapatkan panggilan
tes interview di SMKN 1 Sumenep.
"Kamu kapan pulang? Tanya Om
Kadir.
"Rencananya nanti malam
Om". Jawabku.
"Jangan dulu. Ditunda aja
ya...ini saya dihubungi bagian kurikulum SMKN 1 kalau kamu dipanggil untuk tes
interview. Rencananya besok (Jum'at). Ini suratnya saya bawa". Jelasnya.
"Waduh gimana Om
ya...soalnya saya besok ada raker di pondok, nggak bisa ditinggal.
". Ucapku berargumen.
"Wes pokoknya kamu datang
aja, soal kamu mundur tidaknya, kamu jelaskan waktu tes". Ucapnya.
"Iya Om saya pikir-pikir dulu". Jawabku seraya mengakhiri
pembicaraan.
Kepala saya langsung pusing tak
karuan. Antara menunda pulang yang berujung berantakannya agenda saya, atau
pulang tapi mengabaikan panggilan ini. Panggilan tes ini sebenarnya tidak
tiba-tiba. Melainkan karena lamaran kerja yang saya ajukan lima bulan lalu.
Ya...tepatnya bulan Februari, saya mendapatkan info bahwa SMKN 1 Sumenep
membutuhkan guru komputer untuk jurusan baru, Teknik Informatika. Kebetulan
waktu itu saya diminta keluarga untuk mengajukan lamaran. Sebab mereka
menginginkan saya kembali ke Madura. Setelah saya ajukan, lama tidak ada kabar
sampai akhir tahun ajaran. Saya mengira tidak diterima. Jadinya, saya tetap
fokus ke tugas-tugas saya di sekolah (Aliyah Singosari) dan di pondok (PIQ
Singosari).
Kenapa saya tidak langsung
menerima tawaran ini, padahal dulu saya yang mengajukan lamaran?. Ada dua
faktor yang membuat saya tidak langsung menerima. Pertama, setahun ke depan
saya masih punya "tanggungan" di Malang yang tidak bisa ditinggalkan
(maaf pakai bahasa kiasan..he). Kedua, karena begitu mendadaknya, sehingga
harus mengorbankan tugas-tugas saya yang sudah tersceadule di Malang.
Setelah itu, saya segera
mengutarakan ke orang tua. Saya ingin mendengar saran dari mereka berdua.
Ternyata, orang tua saya menyerahkan keputusannya kepada saya. Menurut mereka,
sayalah yang akan menjalaninya, jadi terserah saya.
Malam hari saya menemui om Kadir,
untuk mendengar langsung bagaimana berita sesungguhnya. Dan juga ingin sharing
apa yang saya lakukan. Ternyata, om Kadir juga menyerahkan keputusan kepada
saya. Akhirnya saya memutuskan untuk menunda kepulangan saya. Saya akan
memenuhi panggilan interview, sekalipun untuk mengutarakan pengunduran diri
saya. Malam itu juga saya hubungi panitia Raker Ma'had untuk izin terlambat
datang.
Keesokan harinya, sekitar jam
07.30 saya berangkat ke SMKN 1 Sumenep dengan diantar keponakan saya, Wafi
namanya. Sebab saya tidak tahu lokasinya. Sesampai di sana, saya disambut Waka
Kurikulum, sebab bapak kepala sekolahnya tidak masuk. Setelah basa-basi, saya
langsung utarakan pengunduran diri saya dari interview. Dengan diawalai
permohonan maaf yang sebesar-besarnya. Alhamdulillah pihak sekolah memaklumi.
Bahkan beliau bilang semoga ada kesempatan di tahun depan bisa bergabung dengan
SMKN 1. Setelah itu, sayapun langsung pamit pulang menuju ke Malang.
Baru dapat limabelas menitan di
dalam bis, ada sms masuk dari pak Faizul Fuad, teman guru di Aliyah.
"PAK, SAMPYAN BISA TA BANTU
NGAJAR DI LAB YAYASAN?"
Waw! Ternyata rizki kalau sudah
ditentukan nggak bakal kemana dan tidak akan salah alamat. SMKN 1 Sumenep saya
tolak, eh datang tawaran dari Yayasan Almaarif. Alhamdulillah. Tapi saya waktu
itu belum mengiyakan. Saya cuma bilang nanti dibicarakan di sekolah. Sebab saya
harus konsultasi untuk mendapatkan izin dari bapak kepala Aliyah, pak Mundzir.
Dan kebetulan besok harinya (Sabtu) ada rapat awal tahun.
0 komentar