Rabu, 23 Januari 2013

Antara Rencana Kita dan Kehendak Allah



Semaksimal apapun rencana dan planing kita, jika Allah tidak berkehendak, tidak akan terjadi. Demikianlah pelajaran yang bisa saya ambil dari apa yang saya alami ketika menghadiri Haul Akbar Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaff Gresik.


Berawal dari rencana sambang ust Marbaith yang sakit. Rencananya rombongan menggunakan mobil salah satu ustadz juga. Rumah ust Marbaith di Lamongan. Searah dengan Gresik. Kebetulan juga rencananya hari Jumat bersamaan dengan acara haul Gresik pada hari Sabtu (3/11/2012). Saya berencana ikut. Pulangnya turun di Gresik untuk mengikuti acara malam harinya, pembacaan mauled Ad Diba’i. H-1 (baca : Kamis), tiba-tiba shohibussayyaroh (pemilik mobil), ust Yasin merubah agendanya. Zaujah guru-guru Perumahan ingin ikut, sekalian sambang bayi. Ya, ust yang kecelakaan ini baru 1 bulan sebelumnya dikaruniai seorang puteri cantik. Dan saya korbannya!. Saya tidak masuk hitungan, sebab jumlah rombongan tiga keluarga beserta anak-anaknya. Emm..teringat kisah nabi Yunus tatkala menaiki perahu. Dimana waktu itu muatan perahu overload, sehingga perlu satu orang untuk dibuang demi menyelamatkan yang lainnya dari tenggelam. Diadakanlah undian. Dan nabi Yunus korbannya. Ini kegagalan pertama.

Berhubung tidak jadi ikut rombongan, saya memutuskan berangkat sendiri naik bis. Saya berencana berangkat jam dua siang. Kenapa? Sebab hari itu saya masih masuk sekolah sampai jam satu. Inginnya pulang ke rumah terus langsung berangkat. Ternyata badan capek dan ngantuk. Istirahat sejenak, eh bablas sampai jam tiga. Kegagalan kedua.

Saya akhirnya berangkat setelah shalat Asar. Padahal saya sudah telepon teman di Gresik untuk dijemput sekitar jam lima. Nggak mungkinlah nyampek. Soalnya perjalanan normal saja butuh dua jaman lebih. Apalagi jam sekian, waktu pulangnya karyawan. Pasti lebih dari dua jam. Dugaan saya tepat. Ke Surabaya saja butuh dua jam. Di Porong macet, lalu di pertigaan Medaeng macet..cet. Walhasil sampai di Bungurasih jam 5 sore.

Setelah di terminal Bungurasih, saya hubungi teman saya menanyakan bis ke Gresik. Menurut dia, saya disuruh naik bis jurusan Semarang, nanti turun di bundaran Tol Gresik. Ternyata bis jurusan Semarang tidak ada. Banyak penumpang tercecer di koridor jurusan Semarang-Solo. Di tengah-tengah kepanikan dan keterputus asaan saya dan penumpang lainnya, ada seseorang yang berteriak-teriak menyuruh kita (baca : penumpang) untuk menunggu di tempat parkir bis. Sehingga tanpa hitungan detik, seluruh penumpang berhamburan menuju parker bis. Eh, ternyata bis juga tidak ada. Saya beranikan Tanya ke salah satu petugas terminal, katanya bis terlambat sebab macet di jalan dikarenakan ada demo buruh. Maklum, waktu itu memang lagi onfire demo buruh yang menuntut kenaikan UMR. Wah kalau begini, bisa-bisa sampai di Gresik larut malam. Sayapun putar otak. Teringat langsung ke Cak Agus Oncom, teman pondok yang asli Gresik. Segera saya telepon, saya tanyakan cara sampai ke Gresik. Dia bilang tidak ada bis ke Gresik. Harus oper di terminal Wilangun dengan naik bis kota, lalu naik angkot. Ini kegagalan ketiga.

Akhirnya dengan kesabaran tingkat tinggi saya sampai juga di kota Gresik jam delapan  malam. Acara pembacaan maulid Ad Diba'i akan dimulai jam sembilan malam. Ada waktu cuma satu jam untuk istirahat. Tanpa ba..bi…bu, saya langsung mandi untuk menyegarkan badan, terus shalat.

Acara pembacaan maulid selesai jam 23.00, inginnya langsung berrgegas pulang, tapi gagal sebab angkutan ke terminal Wilangun atau bis ke Surabaya tidak ada. Akhirnya saya putuskan pulang besok Subuh. Kegagalan keempat.

Saya harus bangun jam 3 Subuh. Minta antar Roney ke terminal Wilangun. Katanya ada bis langsung Malang jam 4 Subuh. Setelah sampai di terminal, suasanya masih sunyi. Tidak ada aktifitas penumpang, cuma petugas jaga loket informasi. Saya beranikan diri untuk bertanya, "Pak bis jurusan Malang jam berapa?" tanyaku.
"Nanti Mas jam 6.30" jawab petugas.
"Ada yang jurusan Surabaya nanti jam 5 pagi" tambahnya. Kegagalan kelima.

Pada akhirnya saya dengan terpaksa naik bis jurusan Surabaya, kemudian oper bis di Bungurasih jurusan Malang. Alhamdulillah selama perjalanan lancar tidak macet. Saya sampai di Singosari jam 07.30.

Dari kisah ini bisa diambil hikmah, bahwa sebaik apapun rencana yang kita susun, andaikata Allah tidak berkenan, maka tidak akan terlaksana. "Ana uriidu wa anta turiidu wa nahnu nuriidu wa Allah yaf'alu maa yuriidu". (23/01/2013)
Load disqus comments

0 komentar