Jumat, 31 Januari 2014

Cerita Kehamilan Istri #2: Tela-tela, oh...Tela-tela

Ini adalah pengalaman pertamaku dalam menghadapi yang namanya "ngidam". Yach, istri saya hamil muda, masa-masa mengalami ngidam. Saya termasuk orang yang tidak percaya apa itu ngidam. Saya menganggap ngidam itu dibuat-buat oleh seorang istri supaya dilayani suaminya. Di saat inilah seorang istri dapat menguji kesetiaan seorang suami. Itulah anggapan saya. Namun setelah mengalami sendiri (menghadapi) ngidam istri, baru saya percaya kalau ngidam itu alami dan bukan dibuat-buat. Dan ini adalah pengalaman pertamaku.



Tiba-tiba hp saya berdering, ada sms masuk dari istri tercinta
"Bi, titip tela-tela ya..."
"Apa itu? Dmn?" balasku
"It lho singkng greng diiris kecil2 yg diberi bumbu. Di dpn masjid" sms balasan dari istri.
"Aduh!" runyamku.

Ekspresi saya ini bukan karena harga tela-telanya mahal, bukan karena tempatnya yang jauh, tidak juga karena rasanya yang tidak enak. Tapi dikarenakan seumur saya di Aliyah (selama jadi guru) tidak pernah beli jajanan di pinggir jalan di depan sekolah. Emang kenapa? Nggak kenapa-napa sih, cuma jaga image saja, atau meminjam istilah ta'limul muta'allim, menjaga muru'ah. Muru'ah adalah sikap seorang penuntut ilmu menjaga harga dirinya dari hal yang menurunkannya. Sekalipun hal itu tidak haram (baca: mubah). Contohnya, membeli es di pinggir jalan adalah hal biasa dilakukan. Tapi berbeda bila hal ini dilakukan seorang Kiai. Reputasinya dipastikan turun.

Inilah yang mendasariku kenapa saya kaget ketika istri mengutarakan tentang tela-tela. Saya bukan Kiai sih, tapi saya merasa risih dan nggak enak aja kalau beli-beli di pinggir jalan bersama-sama dengan murid-murid. Tapi saya nggak tega kalau tidak membelikan untuknya. Sebab istri sudah mulai kemarin menginginkan tela-tela. Sayapun putar otak bagaimana caranya bisa beli tanpa malu. Hehe...

Jam saat itu menunjukkan pukul 13.00 WIB. Saya bergegas pulang karena belum sholat. Baru saja keluar gerbang sekolah, aku ingat tela-tela. Saya lihat satu persatu deretan rombong PKL di depan masjid, akhirnya aku temukan penjual tela-tela. Namun saya mengurungkan untuk beli, sebab ramai dengan murid Aliyah. Akupun memutar ke Jl. Wijaya kembali ke sekolah untuk sholat dulu dan berharap nanti sudah sepi.

Setelah sholat, saya pulang dan berencana mampir ke tela-tela. Lagi-lagi gagal sebab masih ada murid Aliyah yang beli. Apalagi di depan masjid juga bergerombol murid-murid lainnya. Saya mutar lagi ke Jl. Wijaya untuk kembali ke sekolah. Inginnya mencari santri PIQ yang sekolah Tsanawiyah untuk saya minta tolong membelikan tela-tela. Nasib belum memihak, santri yang saya cari nggak ada. Akhirnya saya termenung sendiri di lab TI, sambil menunggu siapa tahu ada santri yang melintas.

Berhubung tidak ada yang saya temui, apalagi hujan turun, akhirnya saya pulang dengan berjudi; kalau nanti sepi saya beli, kalau masih ramai langsung pulang. Ternyata sepi, sayapun beli. Saya tetap di atas sepeda. Berkat hujan, saya ditolong Allah bisa menutupi badan saya dengan jas hujan. Ya, hitung-hitung supaya tidak dikenali murid-murid. Walaupun waktu itu di teras masjid ada seorang murid Aliyah.

"Pak, tumbas gangsal ewu" ucapku ke penjual dengan meyodorkan uang pecahan lima ribuan. Lalu bapak penjual menakar tela-tela. Lama juga kerjanya. Menyiapkan plastik, menakar pakai botol MIZONE yang dipotong tengannya, lalu untuk memasukkan ke plastik digunakan botol AQUA yang diambil ujungnya. Jadinya lama, sebab masuknya tela-tela yang panjang-panjang agak sulit. Dalam hati cuma bisa mengeluh "Kok lama sih pak. Cepat pak, keburu ada murid-murid". Belum lima menit, melintas lima murid Aliyah. Saya lihat di spion sepeda, mereka anak-anak pondok PIQ. "Mati aku", guramku dalam hati. Sayapun tidak berani menoleh.

Sesampai di rumah, saya ceritakan ke istri. Istri saya tertawa mendengar kisah ini. Lantas saya bilang "Pokoknya, kali ini saja saya mau beli di depan sekolah. Besok-besoknya nggak usah. Nggak bakalan saya turuti", ancamku ke istri saya. Sang istri hanya senyum-senyum sambil makan tela-telanya.
Load disqus comments

0 komentar