Seperti biasanya, sebelum para santri pulang ke
rumah masing-masing untuk liburan pesantren, mereka ijtima' (berkumpul)
di aula untuk berpamitan kepada Kiai. Jam dinding menunjukkan pukul 04.30 pagi.
Kiai belum datang. Biasanya diisi pembacaan qosidah oleh santri-santri. Ketika
itu, tiba-tiba saya berinisiatif untuk membaca surat Yasin terpimpin. Lho
kenapa Yasin?
Ya, sebab beberapa hari belakangan ini, Kiai meyuruh para santri
membaca Yasin yang diniatkan untuk kesembuhan puteri beliau, ning Kholidah.
Bismillahirrohmaanirrohiim. Yaasiin....
Setelah mencapai kira-kira 25 ayat, kiai datang
dengan didampingi Ahmad Faqih (santri yang berkidmat menjadi ajudan kiai pada
tiap pengajian beliau di pesantren). Pembacaan Yasin berlangsung sampai
selesai. Kemudian dilanjutkan doa Yasin. Setelah itu, doa khusus oleh Kiai yang
ditujukan untuk kesembuhan puteri beliau, Ning Kholidah yang sedang sakit.
Setelah selesai doa, Kiai tiba-tiba bertanya kepada saya, "Saya mau tanya
kepada yang mimpin, apa tadi waktu diam, tetap membaca atau tidak?.
"Sebagian ya sebagian tidak (baca)" jawabku. Lalu kiai mengomentari
cara saya memimpin pembacaan Yasin. Beliau berkata :
"Kalau membaca Yasin jangan sampai putus
bacannya, begitu juga ketika memimpin baca, walaupun ketika yang mimpin diam,
para makmumnya tetap baca. Kalau terpaksa diam (tidak baca), mulailah dengan
bismillah lagi". Ujar kiai.
Syukur
alhamdulillah, pagi itu saya mendapatkan satu pelajaran berharga tentang
bagaimana adab (etika) membaca Alquran, terutama surat Yasin. Sebab dalam surat
Yasin keterkaitan makna ayat demi ayat sangat berpengaruh. Apalagi surat Yasin
adalah salah satu surat dalam Alquran yang mempunyai fadilah besar. Hal ini
sesuai dengan sabda Rasulullah SAW : Sesungguhnya setiap
sesuatu itu memiliki hati (inti) dan 'hati' nya al Qur'an adalah Surat Yasin,
barangsiapa membaca Yasin maka Allah mencatat untuknya (pahala) membaca al
Qur'an (seluruhnya) 10 kali. (HR. al Turmudzy dari
Anas ra)
0 komentar