| Lagi Bersantai di teras rumah bapak Taukhid |
14.00 AM
Setelah pamit, rombongan menuju
bis. Tujuan selanjutnya ke Pakong Pamekasan. Rumah mertua pak Taukhid. Rencana
awal, sebelum ke Pakong, kita ke pesarean Batu Ampar. Namun waktu yang tidak
mencukupi, ditunda hari kedua (besok).
Perjalanan membutuhkan kurang
lebih dua jam. Setelah bis masuk daerah Omben, pak Taukhid agaknya mulai
bingung jalur arah ke Pakong. Ada perempatan, awalnya dari arah Sampang, bis
belok kanan. Agak jauh setelah berbelok, tiba-tiba pak Taukhid memberi aba-aba
kalau jalur yang dilalui sepertinya salah. Kontan semua rombongan gaduh. Pak
sopir langsung menghentikan laju bis. Ada yang usul untuk bertanya ke warga
setempat. Lagi-lagi saya yang disuruh, karena paham bahasa daerah. Hehe.
Setelah saya bertanya, ternyata
benar bahwa kita salah jalur. Harusnya dari perempatan itu kita lurus. Maka
kita berbalik arah. Tidak lama kemudian beru terlihat plakat penunjuk arah
"PAKONG 5 KM". Jalan yang dilalui berliku-liku. Persis seperti jalan
menuju Pujon Malang. Bedanya kalau di Pujon ramai kendaraan, di Pakong relatif
sunyi. Tidak lama kemudian sampailah kita di rumah mertua pak Tauhid. Kita
turun disambut oleh keluarga besarnya, tak kecuali istri tercinta dan tiga buah
hatinya.
16.30
Saatnya rombongan melanjutkan
perjalanan ke Sumenep. Kita lewat jalur utara, bukan jalur utama Sumenep -
Surabaya. Perjalanan membutuhkan sekitar satu jam. Tujuan kita ke Asta Tinggi
(pemakaman raja-raja Sumenep). Dinamakan Asta Tinggi, karena tempatnya berada di
dataran tinggi.
![]() |
| Di ruang Daftar Tamu. Mendengarkan penjelasan Petugas |
17.30
Sampailah kita di Asta Tinggi.
Kita langsung menuju ke petugas jaga makam. Di sana kita mengisi buku tamu. Ada
satu petugas yang menceritakan sekilas tentang Asta Tinggi. Makam ini mempunyai
luas area 112,2 m x 109,25, yang terletak di desa Kebunagung di tengah
kota Sumenep, di kawasan dataran tinggi, dikelilingi bangunan tembok terbuat
dari batu kapur tanpa perekat, sedangkan bentuk bangunan ini meniru bentuk
bangunan dari beberapa Negara yakni, Negara Belanda, Perancis, Arab. Itali dan
Cina. Berhubung pada malam hari, kita tidak bias menyaksikan kemegahan
arsitektur bangunan Asta Tinggi. Setelah mendapatkan penjelasan tentang Asta
Tinggi, kita menuju makam. Ada dua komplek yang harus disinggahi. Komplek barat
dan timur.
| Suasana pembacaan tahlil |
18.15
Setelah ziaroh ke makam Asta
Tinggi, rombongan langsung menuju bis. Rencananya langsung ke masjid jami'
Sumenep untuk sholat Magrib sekalian menjama' dengan Isya'. Saya langsung
menghubungi sepupu saya yang bekerja di masjid itu, agar dia menyambut dan
melayani. Orang-orang penasaran dengan arsitektur masjid yang menjadi
background show adzan maghrib di TVONE. Waktu itu hujan rintik-rintik. Baru
sampai di depan masjid, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Akhirnya kita
batal turun, dan bis langsung putar arah menuju rumah saya di Beraji.
"langsung saja ke rumah" ujar saya ke pak sopir. Sepupu saya yang
sudah standbay di area parkir hanya bisa berdiam diri. Sayapun Cuma melambaikan
tangan seraya member isyarat bahwa rombongan langsung ke Beraji.
| Suasana obrolan di rumah Saya |
19.00
| Para puteri Kendedes selepas makan malam |

0 komentar