“Ust, titip ini sebentar. Punya ust Sholihin dari mbak Ummuh” Ujar
Sulhan kepada saya sambil meletakkan dua kresek warna merah berisi
pakaian. Mbak Ummuh adalah puteri kiai.
Sulhan santri sekaligus ustadz yang ngabdi di ndalem kiai. Orangnya
memang supel (pekerja keras). Orang kepercayaan keluarga ndalem. Mulai
kiai, bu nyai, bahkan putra-putri kiai.
Tiga hari pasca penitipan dua kresek yang berisi pakaian itu, Sulhan ke kamar ingin mengambil kresek itu untuk dibawa ke rumah ust Sholihin. Waktu itu saya tidak di kamar, cuma ada Khowar. “Ust, dua kresek di sini mana?” tanya Sulhan sambil menunjuk ke arah dekat pintu. “Oh…! Itu ada di dekat gantungan baju” jawab Khowar. Tanpa pikir panjang, Sulhan mengambil kresek yang ditunjuk Khowar tanpa melihat warna dan isinya. Padahal warnanya hitam bukan merah!. Memang sehari sebelumnya, Khowar bersih-bersih kamar. Maklum menghadapi libur panjang.
Menjelang Maghrib, Irfan teman sekamar, kebingungan mencari bajunya.
Dia tanya saya. “Ust, antum tahu baju di kresek hitam di kamar?” tanya
Irfan. Saya jawab “Nggak tahu ya..”. Coba tanya Khowar. “Kata Khowar,
mungkin Sulhan. Soalnya dia tadi pagi mengambil dua kresek hitam”.
Timbal Irfan. “Coba aja di sms”. Ujar saya memotong ucapannya. “Sudah
saya sms, tapi belum ada jawaban”.
Irfan mulai kebingungan. Dia tidak tahu mau tanya ke siapa lagi.
Teman-teman lainnya tidak mungkin. Karena kebanyakan sudah pulang
duluan. Setelah tarawih kira-kira jam 22.00 wib, saya berkemas-kemas
packing pakaian untuk mudik ke Madura besok pagi. Satu persatu saya
masukkan. Lalu saya mencari satu kresek. Berisi pakaian yang baru saya
laundry. Biasanya saya letakkan di dekat gantungan baju. Ternyata yang
saya cari tidak ada. Yang ada cuma kresek berisi pakaian kotor.
Kemana harus saya cari?!. Padahal isi kresek itu adalah sebagian
besar pakaian yang akan saya bawa pulang untuk lebaran. Sedetik
kemudian, saya teringat Irfan yang tadi sore bertanya tentang pakaiannya
yang hilang. “Ini pasti ada keterkaitan dengan apa yang dialami Irfan”
pikir saya dengan yakin. Kemudian saya langsung datangi Irfan yang
sedang tadarus Alquran di aula ma’had bersama santri-santri yang belum
mudik. “Fan, apa ente tahu baju saya yang di kresek hitam?”. Tanya saya.
“Hah…! Antum kehilangan juga?” jawab Irfan dengan nada kaget. “lha iya.
Kok bisa ya.? Padahal saya tadi nyantai-nyantai aja waktu ente tanya
saya. Eh, ternyata saya juga kehilangan. Hehe….”.
“Nggak tahu ust, Sulhan tadi saya sms jawabnya katanya ngak tahu”
terang Irfan. “Lha sekarang Sulhannya kemana?”. “Pulang ke Turen”. “Kata
Khowar gimana sih kronologinya?”. Tanya saya berharap penjelasan dari
Irfan. Lalu Irfan menceritakan kronologinya “Tadi pagi Sulhan mau
mengambil kresek yang pernah dititipkan. Kresek itu akan diberikan ke
ust Sholihin. Terus kata Khowar, dia bawa dua kresek hitam besar padahal
kreseknya warna merah”. Terang Irfan.
“Emang dia pernah titip dua kresek. Tapi warnanya bukan hitam, tapi
merah. Sepertinya dia salah ambil. Kresek miliknya ada di ruang tamu.”
ucapku. “kayaknya begitu ust…” timbal Irfan. “tapi…kok smsnya begitu?
Kok nggak tahu? Terus siapa ya?” ucapku. Memang, saya tidak begitu
percaya dengan smsnya. Karena dia itu orangnya full easy (gampangan).
Kalau dalam bahasa jawanya “poko’e jawab”.
Pikiran saya mulai muter tanpa sebab. Lalu saya kembali ke kamar. Jam
menunjukkan pukul 00.00 wib. Mata mulai memerah karena ngantuk.
Ditambah lagi pikiran yang kacau. Saya putuskan untuk tidur. Jadi
tidaknya pulang saya akan lihat situasi dan kondisi besok. Sebelum saya
pejamkan mata, saya sempatkan sms sendiri ke Sulhan, siapa tahu
jawabannya tidak sama dengan jawaban ke Irfan.
“AFWAN, CM TANYA AJA. APA NT TH BAJU ANA YG DI KRESEK HTAM?”
Itu isi sms saya. Selang beberapa waktu, belum ada balasan darinya,
mata saya terus menyempit. Lalu terpejam. Keesokan harinya, selepas
sahur, saya membuka hp. Ternyata ada sms dari Sulhan.
“GAK UST, G TH. SY AMBIL D GANTUNGAN”
Beberapa saat kemudian, Irfan menghampiriku, dia bertanya “Gimana
ust, ada kabar dari Sulhan?”. “Nich barusan dibalas, jawabannya juga
sama, tidak tahu”. Ujarku sambil saya menunjukkan isi smsnya. Tiba-tiba
hpku berdering. Saya lihat nomor yang memanggil, ternyata abah saya.
“Assalamu’alaikum…” ucapku membuka percakapan. “Nggak jadi pulang
sekarang bah. Ada urusan yang belum selesai. Ditunda besok”. Jawabku
saat abah saya bertanya tentang kepulanganku yang gagal hari ini. Saya
memang tidak menyebutkan sebab batalnya kepulanganku, karena saya pikir
tidak penting untuk diketahui keluarga.
Setelah azan subuh berkumandang, saya bergegas shalat Subuh
berjama’ah di aula bersama santri-santri. Setelah jama’ah, saya langsung
ke kamar. Baca wiridnya saya singkat. Pikiran belum tenang karena masih
memikirkan kresek yang berisi pakaian. Dan juga tertuju pada Sulhan.
Saya masih belum bias percaya kalau bukan Sulhan yang mengambil.
Walaupun dia sudah menyangkalnya lewat sms. Kenapa? Karena saya tahu
bagaimana wataknya. Sifatnya yang full easy “gampangan”, ditambah lagi
keterangan dari Khowar. Alibinya sangat kuat. Makanya waktu Irfan masuk
kamar, saya menyuruhnya untuk telepon Sulhan lagi. Cuma kali ini saya
suruh pakai hp saya. Dengan harapan boleh jadi dia mengangkatnya.
“Assalamu’alaikum” ucap Irfan memulai pembicaraannya. Sepertinya kali
ini diangkat. “Cak Sul, sampiyan dimana?” “Turen?” tanya Irfan.
“Sampiyan nggak tahu kresek hitam yang beriisi pakaian?”.
“Astaghfirullah…! Terus sekarang dimana?”. “Ya dah…! Cepat kembali ke
ma’had. Ditunggu ust Ulil”. Lalu Irfan menutup hpnya. “Gimana Fan?”
tanyaku. “Iya ust..cak Sul yang bawa. Sekarang di ust. Sholihin. Saya
suruh kembali sekarang”. Ujar Irfan menjelaskan. “Ya sudah. Saya mau
tidur aja. Saya batalkan mudik saya. Saya tunda besok”. Ucapku kepada
Irfan sebagai ungkapan kegalauan saya.
Jam 07.00 pagi, Sulhan datang. Langsung masuk kamar bersama Irfan.
Dengan wajah yang tersenyum malu. “Afwan ust, saya kurang nyambung sms
antum. Saya kira jaket ini. Kalau ini saya ambil di gantungan”. Ujar
Sulhan sambil ketawa-ketiwi. Ciri khasnya. Terus sekarang dimana?”
tanyaku. “di perumahan. Di ust Sholihin”. Jawabnya. “Ayo Fan, ikut saya
ambil. Mudah-mudahan belum dibawa ke Madura”. Ajak Sulhan ke Irfan.
“Hah! Ke Madura?” Tanyaku kaget. “Iya ust.., kata ust Sholihin mau
diberikan ke familinya di Madura” Jawab Sulhan. “Ayo cepat..!” sahut
Irfan.
Selang beberapa menit, Sulhan dan Irfan datang dengan membawa dua
kresek hitam. “ini ust milik antum. Gimana, jadi mudiknya?”. Ujar Irfan
dengan sedikit menggoda saya sambil memberikan satu kresek. “Waduh! Wes
jam segini. Nggak jadi lha”. Ucapku. “Antum cek dulu ust!”. Seru Sulhan.
Saya buka kresek tadi. Lalu saya keluarkan satu persatu. Ternyata sudah
bercampur dengan milik Irfan. “Lho kok sudah tercampur gini?!”ujarku.
“iya ust. Nich milik antum” timpal Irfan. Lalu Sulhan berucap sambil
berdiri dan tengak tengok mencari sesuatu, “Lalu mana yang milik mbak
Ummuh?”. “Tuh di ruang tamu”. Ucapku bersamaan dengan Irfan. Sulhan
bergegas ke ruang tamu mengambil kresek merah yang berisi pakaian dari
mbak Ummuh. Kemudian dia antarkan ke ust Sholihin di perumahan.
Beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka dengan keras. Muncul
Sulhan dengan dua baju di tangannya. “Alhamdulillah…!, barokahnya ust
Sholihin”. Ucap Sulhan dengan senyum khasnya. Tampak di wajahnya
kegembiraan dan kebahagiaan yang tiada tara berkat pemberian itu.
Seperti seseorang yang kejatuhan emas sekarung.
“Apa barokahnya Han? Bagi-bagi lah…” ucap teman-teman sekamar dengan
mimik penasaran. “Ini lho saya diberi istrinya ust Sholihin baju. Masih
bagus loch….!! Merknya NIZAR lagi…” ujar Sulhan sambil memamerkan baju
itu. Satu warna coklat, satu lagi warna hijau. “Wow…!!” serentak
semuanya berucap demikian. Tiba-tiba mata saya tertuju ke dua baju itu.
Sepertinya saya mengenal betul baju itu. Saya ambil satu. Benar
dugaanku, itu baju saya!. “Lha ini baju saya!”. “Lha ini juga!”. “Iya
tah ust?”tanya Sulhan dengan mimik tercengang. “Iya…nich”. Ucapku
menyakinkan. “Hahaha…hahaha…hahaha…” Semua menertawakan Sulhan.
Bagaimana tidak mau tertawa, lha mereka melihat mimik wajah Sulhan yang
berubah seratus delapan puluh derajat. Dari yang tadinya semringah
menjadi layu memerah menahan malu. “Waduh! Nggak jadi dech barokahnya”
seronohnya dengan kekecewaan yang dalam. “Untung aja ente nggak langsung
dibawa ke ndalem. Misalnya dibawa, terus ente pakai, ketahuan ust Ulil,
nggak bisa dibayangkan apa yang terjadi..” ujar ust Ihsan yang lagi di
sebelahku. “Ya saya suruh lepas di tempat” timpalku. Sulhan tidak bisa
berkata apa-apa. Hanya wajah yang memerah layu yang dia tampakkan. Lalu
dia bergegas keluar kamar. “Ealah…ternyata ada barokah yang nggak jadi”.
Ucapku.
Itulah kenangan di ramadlan tahun ini. Tidak mungkin terlupakan. Gokil abis!! (Singosari, 26 Ramadlan 1431 H)
0 komentar