Seperti biasanya, tiap pagi mulai jam
05.00 saya mengaji kepada Habib Muhammad Alhaddad (alumnus Abuya
Almaliki, Makkah) di Malang. Hari Selasa yang lalu (11/10/11) saya
mengajak teman pondok, Hasan Murod namanya. Ada kejadian yang membuat
saya nyaris tidak bisa mengikuti pengajian ini. Namun
kejadian yang saya alami ini tidak membuat saya kecewa.
Tetapi justru tiada henti-hentinya saya bersyukur dan bertasbih kepada Allah. Karena di balik ini semua ada rasa takjub dalam diri saya akan scenario Allah yang begitu indah. Mau tahu?…okelah!
Tetapi justru tiada henti-hentinya saya bersyukur dan bertasbih kepada Allah. Karena di balik ini semua ada rasa takjub dalam diri saya akan scenario Allah yang begitu indah. Mau tahu?…okelah!
Saya sengaja berangkat dari pondok
agak awal (sekitar jam 04.45). Karena saya tidak ingin terlalu banyak
tertinggal keterangan dari Habib. Karena kitab yang dikaji sangat bagus,
kitab Ihya’ Ulumuddin, karangan Imam Al Ghazali. Saya naik sepeda motor
yang dijoki teman saya tadi. Dia memacu dengan cepat. Sampai di depan
RSU Syaiful Anwar, tiba-tiba sepeda tidak stabil. Padahal ketika itu
kecepatannya mencapai 80 km/jam. Kontan saja, saya memberi aba-aba ke
Hasan untuk memelankan laju sepeda. Saya langsung menoleh ke ban
belakang. Benar dugaanku, ban sepedaku bocor. Segera saja Hasan berhenti
tepat di depan BNI Kayu Tangan Malang.
“Waduh!, alamat nggak ngaji nih san”,
ucapku ke Hasan seraya turun dari sepeda. “Ente tadi malam mimpi apa?,
kok jadi gini?” candaku ke dia sambil tertawa. Dia menjawab “Mboten ust,
ini tandanya kita disuruh ngaji ke alam”. “Wah, ucapan ente tinggi
sekali. Emm..tapi ada benarnya juga” ujarku. Tak selang beberapa waktu,
tiba-tiba kita melihat seseorang di seberang jalan mengacung-ngacungkan
tangannya dan terlihat mengucapkan kata-kata. Waktu itu kita paham kalau
orang tersebut ingin membantu. Dia menyeberang menghampiri kita.
Sepertinya dia baru saja dari masjid atau musolla. Dia pakai sarung dan
baju koko. Usianya masih muda, mungkin tidak jauh beda dengan saya.
“Bocor bannya Mas?” tanyanya. “Iya
mas” ucapku. “Oh…sampiyan jalan kira-kira 30 meter dari sini. Di depan
warnet PrimaNet, ada tukang tambal ban”. Jelasnya. Setelah itu dia
langsung berlalu dengan menyeberang kembali.
Masyaallah…Ternyanya Allah menurunkan
“malaikatnya” untuk membimbing hambanya yang lagi dihibur dengan
scenario-Nya. Lho kok “dihibur”? Bukannya ban bocor adalah musibah? Saya
katakan TIDAK!. Ketika itu, saya sudah pasrah kalau saya akan lama
menuntun sepeda untuk mencari tukang tambal ban. Sebab mana ada tukang
tambal ban yang buka pada jam segini (05.00). Eh…Ternyata, ada!. INILAH
SKENARIO PERTAMA.
Setelah berjalan sekitar 30 meter,
saya melihat sebuah pomba ban otomatis yang tergeletak di pinggir jalan.
Tepat di depat warnet yang ditunjukkan oleh orang “misterius” tadi. Di
sampingnya terdapat timba dan alat penambal ban. Saya kira sebelumnya
sebuah bengkel. Ternyata tidak. Tukang tambal itu juga tukang parker.
Pintar juga idenya.
Setelah sampai di tukang tambal ban,
saya pasrahkan padanya. Pokoknya beres!. “Pak, saya tinggal sebentar ya”
ucapku kepada tukang tambal. usianya sudah tua. Kira-kira 60 tahun.
Dalam hati berkata “Duh kasihan ya..pagi-pagi begini rela mengais
rizki”. Tapi itulah skenario Allah. Setelah saya pasrahkan kepadanya,
saya mengajak Hasan mencari sarapan. Kebetulan di dekat itu ada warung
yang sudah buka. alhamdulillah. Saya dan Hasan sarapan nasi pecel plus
sate komo. Ini SKENARIO KEDUA. Sebab saya bias berbagi rizki dengan ibu
penjual nasi.
Jam di HP menunjukkan pukul 06.00.
Perut sudah kenyang. Saya kembali ke tukang tambal ban, ternyata sudah
rampung. Saya tanya biayanya, “Berapa Pak?” tanyaku. “Lima ribu”
jawabnya. Saya serahkan selembang uang pecahan 10.000. “Ini pak, sisanya
buat bapak” Ucapku. Sengaja saya lebihkan sebagai rasa terima kasih
saya. Andai tidak ada bapak ini, mungkin saya tidak bisa melanjutkan
perjalanan ke majlis Habib Muhammad. Saya lihat sepintas wajahnya, penuh
bahagia.
Sesegera mungkin saya suruh Hasan
untuk mempercepat laju sepeda. Akhirnya sampailah di majlis. Saya
letakkan sepeda dengan. Terdengar dari kejauhan bacaan doa ikhtitam
majlis
“Robbana infa’naa bimaa ‘allamtanaa. Robbii ‘allimna alladzi yanfa’unaa”
“Robbii faqqihnaa wa faqqih ahlanaa. Waa qoroobatillanaa fi diininaa.”
Pengajian telah usai. Namun saya
tidak berkecil hati. Karena saya tetap mendapatkan pahala majlis ta’lim
ini, yaitu pahala niat. Bukankah niat seorang mukmin lebih baik dari
amalnya? “Niyyatul mu’min khoirun min ‘amalihi”. Dan yang terpenting,
saya dan Hasan masih mendapatkan berkah QOHWAH ARAB (kopi khas Arab).
Hehe..alhamdulillah. Dan inilah SKENARIO KETIGA.
Malang, 15 Oktober 2011
0 komentar