11.15 AM
![]() |
| Foto bersama di depan masjid Syaikhona Kholil |
"Oh...begini ini toh
Suramadu...". Begitulah ungkapan sebagian rombongan ketika melintasi
jembatan sepanjang 5,4 km. Jembatan yang menghubungkan dua pulau, Jawa dan
Madura. Bukan hanya menghubungkan antar pulau, tapi juga budayanya. Mungkin sekarang
banyak orang mengatakan bahwa masyarakat Madura tidak lagi seperti dahulu;
kolot, primitif, terbelakang. Semuanya telah berubah. Hanya satu yang tidak
berubah dan ini akan tetap sampai kapanpun, yaitu bahasa "internasionalnya".
Hehehe....Maka saya agak ‘tersinggung’ dan geli ketika mau berangkat dari Ampel, pak Ali Mas’adi bertanya, “Pak Ulil, di Madura ada Indomart? Aku mau beli snack” ucapnya sambil tertawa kecil. “Iya ada lah pak. Apa sih yang nggak ada di Madura…” timpalku. Ada lagi pertanyaan serupa dari teman guru di ma’had, ketika hendak ke rumah saya. “Ust, di sana (Madura) ada ATM ya…” tanyanya. “????”.
Hehehe....Maka saya agak ‘tersinggung’ dan geli ketika mau berangkat dari Ampel, pak Ali Mas’adi bertanya, “Pak Ulil, di Madura ada Indomart? Aku mau beli snack” ucapnya sambil tertawa kecil. “Iya ada lah pak. Apa sih yang nggak ada di Madura…” timpalku. Ada lagi pertanyaan serupa dari teman guru di ma’had, ketika hendak ke rumah saya. “Ust, di sana (Madura) ada ATM ya…” tanyanya. “????”.
Sebagian rombongan memang belum
pernah sebelumnya melintasi Suramadu. Mereka hanya tahu dari televisi. Maka kontan
saja, ketika bis hendak melewati gerbang tol Suramadu, mereka serempak menoleh
ke kanan kiri jendela bis untuk melihat lebih dekat Suramadu. Bahkan ada yang
berdiri sambil mengabadikan pemandangan ini, seperti pak Siyono dan pak Anam. Sampai-sampai
pak Anam maju ke depan untuk mengambil gambar lebih dekat.
11.45
| Pembacaan tahlil |
12.45
![]() |
| Pak Mundzir lagi shopping Clurit |


0 komentar