Selasa, 31 Januari 2012

Touring Religi Madura (Episode 2)


11.15 AM
Foto bersama di depan masjid Syaikhona Kholil
"Oh...begini ini toh Suramadu...". Begitulah ungkapan sebagian rombongan ketika melintasi jembatan sepanjang 5,4 km. Jembatan yang menghubungkan dua pulau, Jawa dan Madura. Bukan hanya menghubungkan antar pulau, tapi juga budayanya. Mungkin sekarang banyak orang mengatakan bahwa masyarakat Madura tidak lagi seperti dahulu; kolot, primitif, terbelakang. Semuanya telah berubah. Hanya satu yang tidak berubah dan ini akan tetap sampai kapanpun, yaitu bahasa "internasionalnya".
Hehehe....Maka saya agak ‘tersinggung’ dan geli ketika mau berangkat dari Ampel, pak Ali Mas’adi bertanya, “Pak Ulil, di Madura ada Indomart? Aku mau beli snack” ucapnya sambil tertawa kecil. “Iya ada lah pak. Apa sih yang nggak ada di Madura…” timpalku. Ada lagi pertanyaan serupa dari teman guru di ma’had, ketika hendak ke rumah saya. “Ust, di sana (Madura) ada ATM ya…” tanyanya. “????”.  

Sebagian rombongan memang belum pernah sebelumnya melintasi Suramadu. Mereka hanya tahu dari televisi. Maka kontan saja, ketika bis hendak melewati gerbang tol Suramadu, mereka serempak menoleh ke kanan kiri jendela bis untuk melihat lebih dekat Suramadu. Bahkan ada yang berdiri sambil mengabadikan pemandangan ini, seperti pak Siyono dan pak Anam. Sampai-sampai pak Anam maju ke depan untuk mengambil gambar lebih dekat.

11.45

Pembacaan tahlil
Bis mulai masuk ke area parkir di makam Syaikhona Kholil. Rombongan  langsung menuju makam. Pembacaan Yasin dan tahlil dipimpin langsung oleh ustadz Badawi (Gus Beh). Setelah dari makam, kita melaksanakan sholat jamak taqdim Dzuhur dan Asar. Setelah itu....apa ya?? Oh iya, narsis-narsisan di depan area masjid yang megah dan artistik. Selanjutnya, sebagian dari rombongan ada yang shopping clurit, pisau and more...Seperti Pak Mahali, dia menawar clurit besar yang biasanya digunakan carok. Clurit semacam ini tidak dijual secara umum. Sifatnya rahasia. Tidak semua orang ditawari. Saat pak Mahali tanya, awalnya si penjual mengatakan tidak ada. Tapi setelah beliaunya berbahasa Madura, baru ditunjukkan clurit itu. Apalagi perawakan pak Mahali kelihatan ras Maduranya. Harga dibuka 300 ribu. Setelah ditawar, dikasih dengan harga 175 ribu saja. Tapi pak Mahali urung beli, karena khawatir ada sweeping senjata tajam.

12.45
Pak Mundzir lagi shopping Clurit
Setelah semua rombongan masuk bis, tiba-tiba pak Choiron mengajak mampir sejenak ke familinya. Kebetulan rumahnya tidak jauh dari pesarean Mbah Kholil, sekitar 20 meter. Karena ini tidak masuk agenda yang disepakati, awalnya hanya perwakilan yang turun, seperti pak Mundzir, pak Slamet Hariyono, Gus Badawi. Tapi berhubung dipaksa oleh tuan rumah, akhirnya semua rombongan ikut turun. Alhamdulillah, disuguhi makanan ringan, ada salak, rengginang lorjuk, tahu goreng, dan tidak ketinggalan es Nutri Sari. Emm..enak ongguh. Ini yang namanya silaturrahmi membawa berkah.

Setelah setengah jam berlalu dan juga suguhan habis semuanya, kita pamit untuk melanjutkan perjalanan ke rumah pak Tauhid di Pakong Sampang. (Bersambung)
Load disqus comments

0 komentar