Seperti biasanya, di sore
hari saya dan teman-teman kampung bermain. Waktu itu sekitar jam 15.00, selepas
shalat Asar, saya berganti baju. Ya, baju seragam bermain khas anak kampung.
Celana pendek warna abu-abu dan baju coklat yang ukurannya besar, karena baju
itu turunan dari kakak saya. Hehe…Saya dan teman-teman mau bermain kelereng.
Kita kumpul di 'tanean lanjeng' alias
halaman yang panjang dekat rumah. Di kampung saya dikenal dengan sebutan 'tanean lanjeng', karena tiap rumah
mempunyai halaman yang luas. Dan posisi rumah berjajar memanjang ke samping.
Sehingga tiap ujung halaman satu dengan lainnya bersambung dan memanjang.
Ketika teman-teman sudah
berkumpul, sebelum menuju ke tempat permainan kelereng, kita berbincang-bincang
sejenak di depan halaman rumah salah satu tetangga. Ada sebuah sepeda kuno
alias sepeda onthel yang lagi parkir di dekat situ. Kok tiba-tiba saya
ingin sekali menaiki sepeda itu. Lalu saya mulai mendekatinya. Saya pegang dia.
Saya coba gerak-gerakkan. Waw! Berat sekali. Maklum sepeda kuno. Warnanya
silver. Bodinya masih orisinil semua kecuali catnya. Posisinya mengarah ke
halaman yang lebih tinggi dari posisi sepeda. Ada tenjakan
kecil sekitar dua puluh centimeter lebarnya. Tanjakan ini sebagai penghubung
antar halaman. Tidak sabar rasanya hati saya untuk mencoba menaiki
sepeda kuno ini. Saya ambil sepeda itu, lalu saya ayunkan untuk menelusuri halaman
kampung. Belum lama saya berada di atas sepeda, persis berada di
atas tanjakan itu, tiba-tiba...
Brakk...!
Saya terjatuh. Posisi sepeda
di atas badan. Posisi badan saya tengkurap dengan tangan kiri
tertindih badan dan sepeda. Saya spontan duduk. Sekilas saya tidak mengalami
apa-apa dan tidak merasakan apapun. Namun, ada keanehan pada salah satu anggota tubuh
saya ketika saya mencoba bangun. Saya periksa dengan seksama. Ketika saya
melihat lengan kiri saya, terlihat beda. "Kok membesar?" pikir
saya.
Masyaallah...Allahu Akbar! Hanya itu yang bisa terucap. Mata saya tak berkedip
sedetikpun dari tangan saya. Baru saya sadar kalau mengalami patah tulang.
Patahnya persis di persendian siku tangan kiri. Rasa nyeri dan sakit belum
saya rasakan. Karena pikiran ini tertuju kepada tanganku yang merana. Sayapun
memberanikan berdiri untuk pulang memberitahukan apa yang saya alami. Anehnya,
teman-temanku hanya terbengong melihat kejadian ini. Tak satupun beranjak dari
tempat semula.
Sesampai di rumah, sayapun
memanggil-manggil ayah dan ibu. "Rama..rama..ibu..ibu..saya patah
tulang" ucap saya berkali-kali sambil membuka pintu. Saya melihat
ayah sedang sholat. Tiba-tiba ayah membatalkan sholatnya tatkala mendengar
jeritan saya tadi. Begitupun ibu, yang saat itu ada di kamar
mandi. Ibu menjerit mendengar panggilanku. Mereka berdua langsung mendekap
saya
sambil terisak-isak menangis. Mereka tidak tega melihat kondisi tangan
saya
yang gontai. Apalagi wajah saya yang pucat dan tegang. Sayapun mulai tidak
tahan menahan sakit, tambah lama, tambah terasa. "Gimana toh nak kok bisa
begini..." seru ibu sambil mengusap air matanya yang tidak mampu dibendung.
Kakak ipar
saya
yang ketika itu menerima tamu, juga menghampiri saya. Dengan cekatan,
dia menyuruh ibu untuk menidurkan saya di ranjang. Kemudian dia memegang tangan
saya yang gontai untuk diluruskan. "Tahan ya..." ucapnya seraya menarik
tangan saya. "Krek..". "Auuu...!!" jeritku.
Setelah itu kakak saya bergegas memanggil tukat pijat ahli patah tulang. Sanak
famili dan tetangga mulai berdatangan. Mereka tahu dari mulut ke mulut. Ibuku
tidak henti-hentinya menangis sambil menemaniku.
Setengah jam kemudian, kakak saya
datang bersama tukang pijat. Namanya pak Abdulloh. Dia dikenal di daerahnya
sebagai ahli patah tulang. Mulailah tangan saya "diservice". Dipijat
pelan-pelan. Sesekali menarik lengan saya untuk menempatkan ke posisi semula.
Sakit...? Ah! Jangan tanya itu. Siapapun akan tahu rasanya. Setelah beberapa
menit, pak Abdulloh mengikat tangan saya dengan kulit kayu agar posisinya tidak
berubah. Terutama ketika tidur. Dan selesailah "service" itu.
(bersambung)
(Beraji, 1993)
0 komentar