Senin, 11 Juni 2012

#3 Tragedi Patah Tulang : Alhamdulillah, Operasi Lancar


Keputusan operasi tidak bisa ditunda lagi. Rekomendasi dokter mau tidak mau dilaksanakan. Waktupun telah ditentukan. Saya, kedua orang tua dan kakak ipar saya yang berangkat. Kenapa kakak ipar? Karena dia lebih tahu prosedur-prosedur dalam rumah sakit. Rumah sakit yang dituju adalah rumah sakit dr. Sutomo di Karangmenjangan Surabaya.

Pertama-tama, hasil foto dari Madura diberikan kepada petugas rumah sakit. Kemudian saya perlu difoto ulang. Setelah itu baru diputuskan apakah benar-benar perlu operasi atau tidak. Hasilnya sama! Harus dioperasi. Dijadwalkanlah waktu operasi. Karena belum pernah mengalami semacam ini, kedua orang tua saya cemas dan sangat khawatir terjadi apa-apa. Sedang kakak ipar saya tenang dan santai. Bahkan dia berusaha menenangkan orang tua saya. Begitupun saya.

Saya direbahkan di ranjang khusus operasi. Saya memakai pakaian serba putih. Pakaian wajib pasien yang akan dioperasi. Kemudian saya diinfus untuk nuterisi pengganti makanan selama operasi. Karena nanti saya akan tidak sadarkan diri beberapa jam. Tak lupa saya dibius obat mati rasa. Tidak disuntik, tapi disalurkan lewat infus tadi. Detik-detik proses operasi mulai mendekat. Orang tua dan kakak ipar tidak boleh masuk ruang operasi. Hanya saya dan para dokter dan perawat. Pelan-pelan mata saya mengantuk. Ini akibat dari obat bius. Sampai pada akhirnya, saya tidak sadarkan diri. Tiba-tiba ketika sadarkan diri, saya sudah berada di ruang pasien. Di samping kanan kiri saya ada orang tua. "Dah sadar nak..." tanya ibuku. Itulah kata yang pertama kali saya dengar setelah saya sadarkan diri. "Kamu dah berhasil dioperasi" lanjut ibu. Sayapun menjawab "alhamdulillah". Ada kejanggalan di tubuh saya. Ternyata setelah saya melihat ke tangan saya, tangan saya diperban. Berat rasanya.

Tiga hari tiga malam saya menginap di rumah sakit. Asing rasanya hidup di rumah sakit. Hari keempat saya diperbolehkan pulang. Lega rasanya. Tiap bulan sekali harus kontrol ke Surabaya. Setelah tiga kali kontrol, tiba waktunya untuk membuka gip dan mencabut paku penyangga. Paku penyangga tulang saya terdapat tiga. Di sebelah kiri dan kanan serta sebelah bawah. Panjangnya kira-kira tiga centimeter dari permukaan kulit dan ditekuk. Paku-paku ini sebagai penahan tulang agar tidak berubah dari posisi asal setelah operasi. Paku-paku ini harus dicabut sebelum tulang-tulang ini benar-benar menyatu. Proses penyembuhan ini membutuhkan sekitar dua bulan. Setiap dua minggu saya harus kontrol ke Surabaya.

Tiba saatnya pencabutan paku-paku ini. Saya pikir sebelum pencabutan paku, terlebih dahulu dibius. Eh, ternyata tidak sama sekali. Alias tanpa bius. Dokter yang mencabut paku ini cuma bilang "tahan ya...nggak sakit kok" ujarnya seraya tersenyum kepadaku. Sayapun berusaha tersenyum walaupun dalam pikiran saya terbayang betapa sakitnya. Jangankan paku. Duri saja jika tertancap sedikit di kaki, begitu sakit rasanya ketika dicabut. "Bismillah..klik!". Saya mati rasa. Wajah tegang dan pucat seketika. "Aughh..". (bersambung)
Load disqus comments

0 komentar