Keputusan operasi tidak bisa
ditunda lagi. Rekomendasi dokter mau tidak mau dilaksanakan. Waktupun telah
ditentukan. Saya, kedua orang tua dan kakak ipar saya yang berangkat. Kenapa
kakak ipar? Karena dia lebih tahu prosedur-prosedur dalam rumah sakit. Rumah
sakit yang dituju adalah rumah sakit dr. Sutomo di Karangmenjangan Surabaya.
Pertama-tama, hasil foto dari Madura
diberikan kepada petugas rumah sakit. Kemudian saya perlu difoto ulang. Setelah
itu baru diputuskan apakah benar-benar perlu operasi atau tidak. Hasilnya sama!
Harus dioperasi. Dijadwalkanlah waktu operasi. Karena belum pernah mengalami
semacam ini, kedua orang tua saya cemas dan sangat khawatir terjadi apa-apa.
Sedang kakak ipar saya tenang dan santai. Bahkan dia berusaha menenangkan orang
tua saya. Begitupun saya.
Saya direbahkan di ranjang khusus
operasi. Saya memakai pakaian serba putih. Pakaian wajib pasien yang akan
dioperasi. Kemudian saya diinfus untuk nuterisi pengganti makanan selama
operasi. Karena nanti saya akan tidak sadarkan diri beberapa jam. Tak lupa saya
dibius obat mati rasa. Tidak disuntik, tapi disalurkan lewat infus tadi.
Detik-detik proses operasi mulai mendekat. Orang tua dan kakak ipar tidak boleh
masuk ruang operasi. Hanya saya dan para dokter dan perawat. Pelan-pelan mata
saya mengantuk. Ini akibat dari obat bius. Sampai pada akhirnya, saya tidak
sadarkan diri. Tiba-tiba ketika sadarkan diri, saya sudah berada di ruang
pasien. Di samping kanan kiri saya ada orang tua. "Dah sadar nak..."
tanya ibuku. Itulah kata yang pertama kali saya dengar setelah saya sadarkan
diri. "Kamu dah berhasil dioperasi" lanjut ibu. Sayapun menjawab
"alhamdulillah". Ada kejanggalan di tubuh saya. Ternyata setelah saya
melihat ke tangan saya, tangan saya diperban. Berat rasanya.
Tiga hari tiga malam saya
menginap di rumah sakit. Asing rasanya hidup di rumah sakit. Hari keempat saya
diperbolehkan pulang. Lega rasanya. Tiap bulan sekali harus kontrol ke
Surabaya. Setelah tiga kali kontrol, tiba waktunya untuk membuka gip dan mencabut
paku penyangga. Paku penyangga tulang saya terdapat tiga. Di sebelah kiri dan
kanan serta sebelah bawah. Panjangnya kira-kira tiga centimeter dari permukaan
kulit dan ditekuk. Paku-paku ini sebagai penahan tulang agar tidak berubah dari
posisi asal setelah operasi. Paku-paku ini harus dicabut sebelum tulang-tulang
ini benar-benar menyatu. Proses penyembuhan ini membutuhkan sekitar dua bulan.
Setiap dua minggu saya harus kontrol ke Surabaya.
Tiba saatnya pencabutan paku-paku
ini. Saya pikir sebelum pencabutan paku, terlebih dahulu dibius. Eh, ternyata
tidak sama sekali. Alias tanpa bius. Dokter yang mencabut paku ini cuma bilang
"tahan ya...nggak sakit kok" ujarnya seraya tersenyum kepadaku.
Sayapun berusaha tersenyum walaupun dalam pikiran saya terbayang betapa
sakitnya. Jangankan paku. Duri saja jika tertancap sedikit di kaki, begitu
sakit rasanya ketika dicabut. "Bismillah..klik!". Saya mati rasa.
Wajah tegang dan pucat seketika. "Aughh..". (bersambung)
0 komentar