Hpku berdering. Ku lihat nomor yang tertera, ternyata ayahku. Segera aku hentikan obrolan bersama rombongan. Memang, waktu itu posisiku di dalam mobil yang melaju ke Pasuruan. Rombongan asatidz dan Ammy untuk menghadiri walimah akad nikah salah satu ustadz di ma’had, ust Ludzfillah. Sepertinya ada hal penting. Soalnya beberapa kali memang ayahku menghubungiku, namun tidak pernah aku angkat. Bukan karena aku tidak mau angkat, tapi selalu waktunya tidak memungkinkan. Seperti saat aku mengajar, atau dalam posisi mengendarai motor.
Kadang juga karena sinyal yang lemah. Tanpa pikir panjang, aku langsung angkat hpku. Suara yang terdengar di seberang adalah suara ibuku. "Asslamu'alaikum..." ucap ibuku. Aku jawab "Wa'alaikum salam". Tanpa ‘muqoddimah’, ibuku langsung pada pokok pembahasan yang tidak beranjak dari masalah nikah. Ibuku tanya apa aku sudah dapat 'cadangan'. Hehe..geli aku mendengarnya. Masak cadangan? Lha wong satu aja belum ada. Itu jawabku. Lalu ibu mulai cerita keadaan di rumah yang mulai ‘memanas’. Sepupu-sepupuku sudah mau nikah. Ada juga yang mau tunangan. Padahal secara usia, mereka masih di bawahku. Itu yang memanaskan suhu di rumah. Aku sebenarnya memaklumi. Tapi bagaimana lagi.Sudah usaha tapi belum dapat-dapat juga. Di tengah-tengah obrolanku dengan ibuku, tiba-tiba.."tuit...tuit..tuit..". Koneksi hpku putus. Aku lihat di hpku, ternyata sinyalnya ZERO. Sial!
Kadang juga karena sinyal yang lemah. Tanpa pikir panjang, aku langsung angkat hpku. Suara yang terdengar di seberang adalah suara ibuku. "Asslamu'alaikum..." ucap ibuku. Aku jawab "Wa'alaikum salam". Tanpa ‘muqoddimah’, ibuku langsung pada pokok pembahasan yang tidak beranjak dari masalah nikah. Ibuku tanya apa aku sudah dapat 'cadangan'. Hehe..geli aku mendengarnya. Masak cadangan? Lha wong satu aja belum ada. Itu jawabku. Lalu ibu mulai cerita keadaan di rumah yang mulai ‘memanas’. Sepupu-sepupuku sudah mau nikah. Ada juga yang mau tunangan. Padahal secara usia, mereka masih di bawahku. Itu yang memanaskan suhu di rumah. Aku sebenarnya memaklumi. Tapi bagaimana lagi.Sudah usaha tapi belum dapat-dapat juga. Di tengah-tengah obrolanku dengan ibuku, tiba-tiba.."tuit...tuit..tuit..". Koneksi hpku putus. Aku lihat di hpku, ternyata sinyalnya ZERO. Sial!
Aku belum puas, aku coba telepon ulang. Sampai dua kali tidak bisa.Hampir aku putus asa.Tapi aku coba sekali lagi. Alhamdulillah nyambung.Sekarang yang angkat bukan ibu, tapi ayahku. Pembahasannya sama. Malahan di tengah-tengah obrolan, ayah berucap "pokoknya kamu harus dapat (calon istri) bulan lima (Mei)". Aku tercengang!. Apa maksud ucapan ayah itu. Intruksi atau saran atau apa?. Mumpung belum telalu lama pertanyaan dan kebingungan itu berputar di kepalaku, aku beranikan bertanya dengan berharap penjelasan ayah. "Maksudnya apa yah kok harus bulan lima?" tanyaku. "Iya harus. Kamu kan ke bulan enam sudah umur tiga puluh tahun. Jadi, kamu harus menikah sebelum itu. Paling tidak, ya bulan Mei" ujar ayahku. "Emm..gito. Lha terus gimana lagi yah kalau belum menemukan" ucapku berdalih. "Makanya nyari. Jangan diam aja" jawab ayah. "Ini ada kata bude Minah, gimana?" tanya ayah. "Ya nggak apa-apa.Terserah ayah. Suruh aja mbak Asti mengorek infonya. Dia tahu karakterku" sambungku. "Ya udah, nanti saya suruh mbakmu". "Nggeh monggo.." ujarku. "Assalamu'alaikum" ucap ayah mengakhiri teleponnya. Tuit..tuit..tuit..
(Singosari, 17.03.11)
0 komentar