# Rabu, 7 Desember 2011
Stamina tubuhku tambah turun. Flunya tambah deras. Tapi aku tetap marus masuk sekolah. Sebab sudah ada janji dengan mahasiswa D3 Universitas Negeri Malang jurusan Teknik Informatika yang sedang observasi untuk penyusunan Tugas Akhir.
Aku berangkat ke sekolah jam 09.00. Sampai di sana, langsung dipanggil Pak Kepala untuk melanjutkan penyelesaian laporan kontrak prestasi. Saat ini yang dikerjakan laporan penyusunan buku SKU (Syarat Kecakapan Ubudiyyah). Suasana kantor ramai dengan siswa yang mengurus persyaratan untuk mendapatkan kartu ujian. Ada yang membayar SPP dan Tahapan. Ada yang melanjutkan ujian SKU. Ada pula yang meminta tanda tangan guru untuk kelengkapan persyaratan kehadiran yang kurang dari 90 persen.
Aku masuk ke ruang bendahara untuk menanyakan sistem pembayaran SPP dan juga sirkulasi keuangan. Ini aku jadikan bahan untuk data yang nantinya akan diminta oleh mahasiswa UM tadi. Namun yang aku dapatkan? Ternyata sistem pengelolahan keuangan rumit dan bertele-tele. Bukan karena sistem di sekolah ini, melainkan sistem yang diterapkan oleh Yayasan. Perlu diketahui, bahwa tiap unit madrasah harus menyetorkan seluruh dana dari SPP ke yayasan, sebelum dipotong sekian persen untuk operasional madrasah. Bertele-telenya terjadi di sistem penyetoran. Harusnya cukup disetorkan sekian persennya saja sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan. Tidak perlu setor semua, lalu dipotong sekian persen dan dikembalikan ke unit madrash. Ugghh..
Setelah selesai wawancara, akupun menghindar dari keramaian kantor menuju perpustakaan. Di sana tidak lama cuma 15 menit. Selanjutnya aku pendah ke musolla madrasah dekat perpustakaan. Badanku rasanya tidak sanggup dibuat duduk. Pinginnya tidur aja. Badanku mulai kedinginan. Akupun berbaring merebahkan badanku. Satu..dua..tiga..aku masuk ke alam tak sadar. Sekitar 30 menit aku terlelap tidur. Aku terbangun oleh batuk dan flu yang tak henti-hentinya demo di hadapanku. Aku harus pulang. Sudah tidak kondusif. Lagian pekerjaanku tidak ada. Mahasiswa yang ditunggu-tunggupun tidak datang.
Tepat jam 11.45 aku pulang ke pondok. Aku sholat jamaah Dhuhur. Lalu aku tidur. Badan ini tambah panas dingin (baca : greges). Jam 16.30 aku bangun untuk sholat Asar. Alhamdulillah masih bisa berjamaah. Setelah itu, aku menyuruh salah satu santri membelikan jamu. Namanya Imam Wahyu. Sampai azan Maghrib berkumandang, si Imam belum datang juga. Sholat Maghrib selesai belum nongol juga. Ah! Aku heran. Masak sampai hampir dua jam belum datang? Padahal toko jamunya dekat. Tiba-tiba...
"Tok...tok" bunyi pintu kamar. Aku buka ternyata Imam sambil membawa dua bungkusan kresek. Satunya berisi jamu dan satunya lagi roti. "Afwan ust, antri banyak sampai 20an, jadinya lama" ucap Imam menjelaskan sebab keterlambatannya. "Iya nggak apa-apa. Syukron ya..." timpalku padanya.
Jamu itu langsung saya minum setelah aku makan roti sebagai pengganti nasi. Saat itu di kamar ada ust Qodir, Marbait dan Ali Faza. Kata ust Qodir, ada hadits yang menjelaskan bahwa kalau kita sakit, perbanyaklah sedekah. Marbait menambahkan, bahwa diantara obat sakit adalah dengan mengajar. Banyanganku langsung tertuju kepada sesosok manusia mulia. Seorang guru sejati yang istiqomah mengajar sekalipun sakit. Bahkan sakitnyapun tidak beliau rasakan dan terlupakan sebab ni'mat yang beliau dapat di saat mengajar. Beliau tak lain sang maha guruku, Murobbi Ruhina Wa Ajsaadina KH. M. Basori Alwi.
Setelah minum jamu, aku beranjak kembali ke selimut dan bantal yang setia menungguku. Memang aku niatkan untuk mengakhirkan sholat Isya. Walaupun sebenarnya tinggal beberapa menit lagi akan tiba. Aku ingin tidur dulu untuk mengeluarkan keringat. Sampai pada akhirnya, aku bangun jam 01.00 dini hari. Kondisi badanku lumayan segar. Sudah tidak panas, tidak dingin, tidak pusing, dan tetap flu. Aku sholat Isya' kemudian aku lanjutkan tahajjud dan witir.
0 komentar